Ada kesalahan di dalam gadget ini

Selasa, 28 September 2010

Bangun Pabrik di Pomalaa Inco Buka Peluang Kerja

Bangun Pabrik di Pomalaa Inco Buka Peluang Kerja
PT International Nickel Indonesia Tbk (PT Inco), akhirnya memutuskan membangun pabrik di Kabupaten Pomalaa, Provinsi Sulawesi Tenggara.
Presiden Direktur PT Inco, Arif Siregar, memaparkan rencana pengembangan PT Inco di hadapan Gubernur Sulawesi Tenggara, Nur Alam SE, jajaran Pemprov Sulawesi Tenggara, berikut perwakilan 7 kabupaten yakni Kolaka, Kolaka Utara, Konawe, Konawe Selatan, Konawe Utara, Bombana, dan Buton.
Pemaparan itu berlangsung di kantor Gubernur Propinsi Sulawesi Tenggara Jumat 14 November 2008. Perwakilan DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara, dan Direktur Pembinaan Pengusahaan Pertambangan, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Bambang Gatot Aryono juga ikut mendengarkan pemaparan Arif Siregar. Diantara yang dijelaskan itu antara lain rencana perluasan Proyek PT Inco, rencana pembangunan pabrik di Pomalaa, manfaat proyek di Pomalaa, program pemberdayaan masyarakat, hingga kondisi pasar nikel dunia.
“Untuk pembangunan pabrik di Pomalaa sekarang sedang proses AMDAL dan pabrik akan dibangun bila sudah selesai ratusan izin mulai dari tingkat pemerintah pusat, provinsi, hingga kabupaten. PT Inco tidak akan membangun pabrik bila izin-izin tersebut belum diperoleh secara lengkap,” jelas Arif Siregar, yang didampingi Senior Vice President Corporate Affairs and General Counsel PT Inco, Nurman Jumiril, Direktur Pomalaa dan Bahodopi, Andrawina Kuyung, dan jajaran manajemen PT Inco.
Menurutnya untuk membangun pabrik antara lain diperlukan izin kepastian investasi, kepastian untuk bisa membangun proyek besar di area Kontrak Karya PT Inco, kepastian proses pengadaan tanah, persetujuan kelayakan lingkungan, dan pembangunan pelabuhan juga bandara khusus. PT Inco berencana membangun pabrik dengan teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL). Menurut Arif Siregar, banyak manfaat bila pabrik bisa dibangun di Pomalaa. “Dengan adanya pabrik, akan menciptakan lapangan kerja di Kabupaten Kolaka, meningkatkan perkembangan ekonomi daerah dan pendapatan daerah serta penerimaan negara dari royalti, pajak dan lain-lain," kata Arif lagi.
Benarkah hanya Kabupaten Kolaka yang akan menerima manfaatnya? logika bisnis juga memperkirakan keberadaan pabrik akan membuat kabupaten disekitarnya, bahkan di luar Provinsi Sultra akan ikut dibuat bergairah, menjadi lebih terbuka dan akan memacu pertumbuhan regional. Selain itu, akan menumbuhkan kesempatan berusaha bagi pengusaha lokal. Untuk melibatkan pengusaha lokal, paling tidak ada banyak sub sektor bidang layanan yang bakal terbuka peluangnya di Pomalaa, diantaranya perhotelan, penyewaan mobil, rumah makan, gerai swalayan, berikut jasa-jasa lainnya.
Menanggapi rencana Inco, Gubernur Nur Alam mengharapkan agar PT Inco segera bisa membangun pabrik di Pomalaa. “Masyarakat Sulawesi Tenggara mengharapkan berdirinya pabrik untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat dan Sulawesi Tenggara pada umumnya,” ungkapnya. Tidak berlebihan memang setidaknya jika menggunakan sudut pandang pemerintah daerah dalam mencermati masuknya investor, yang akan memberikan kontribusi bagi masyarakat dan perekonomian secara keseluruhan.
Sebagai konsekwensinya, Iskandar Siregar salah seorang staf PT Inco, kepada Upeks menuliskan untuk program pemberdayaan masyarakat, PT Inco fokuskan pada sektor pendidikan, kesehatan, pertanian, usaha kecil dan menengah, seni dan budaya serta infrastruktur. Saat ini sekelompok pemuda dari Sulawesi Tenggara sedang mengikuti Program Pelatihan Industri selama kurang lebih dua tahun di Sorowako, yang nantinya diharapkan bisa menjadi tenaga ketika bila jadi pabrik di bangun di Pomalaa. Ada juga beasiswa untuk 28 mahasiswa USN Kolaka. Beasiswa untuk SD, SMP, hingga SMA akan diberikan tetapi sekarang sedang dievaluasi metodenya, mengutip penjelasan Andrawina Kuyung.
Sesuai dengan komitmen Kontrak Karya selama menunggu pembangunan pabrik di Pomalaa, PT Inco akan memberikan dana Community Development (comdev) dengan total sekitar US$ 3 juta, hingga tahun 2007 sudah dikeluarkan kumulatif US$ 2,5 juta. Sementara program comdev yang sudah direalisasikan antara lain pengadaan genset dan pembangunan bak air beserta tower-nya untuk Rumah Sakit Umum Kolaka. Untuk tahun tahun 2008 penggunaan dana ini diarahkan kepada peningkatan sarana pendidikan, peningkatan sarana kesehatan, pengembangan energi alternatif dan pengembangan Agro-Center.
Pada akhir paparan, Arif Siregar menjelaskan kondisi pasar nikel saat ini yang sedang mengalami kelesuan. Harga nikel LME mengalami kejatuhan dari harga tertingginya pada bulan Mei2007 yaitu US$ 24.5/lb Ni ke harga terendah US$ 4.0/lb Ni di bulan Oktober 2008. Sekarang ini banyak produsen nikel yang ongkos produksinya lebih tinggi dari harga jualnya, sehingga memilih tidak berproduksi untuk sementara waktu atau menjalankan usaha dalam kondisi rugi. PT Inco masih tetap berproduksi sambil berusaha dengan keras untuk menurunkan biaya produksi. "Kita semua belum tahu kapan kondisi ini akan membaik lagi. Saat ini sudah ada proyek-proyek pengembangan pabrik yang ditunda atau diperlambat sebagai akibat dari kondisi tersebut,” ujar Arif Siregar.
Meskipun harga nikel sedang merosot, Arif Siregar menerangkan PT Inco tetap berkomitmen untuk memenuhi kewajiban-kewajiban seperti yang tertera dalam Kontrak Karya. Pada akhir pertemuan, perwakilan 7 kabupaten mendesak PT Inco untuk segera merealisasi pembangunan pabriknya di Pomalaa. (Zulkarnaen)
 

Minggu, 26 September 2010

perkembangan pomalaa saat ini

Antam Pomalaa Siap Ekspor Biji Nikel ke Eropa

Bisnis Hari Ini / Ekonomi - / Jumat, 26 Maret 2010 15:37 WIB

Metrotvnews.com, Kendari: PT Aneka Tambang (Antam) Pomalaa, Sulawesi Tenggara, akan mengekspor sekitar 2.000 ton biji nikel yang telah diolah di pabrik Feronikal III milik PT Antam Pomalaa. Keputusan ini diambil menyusul membaiknya harga nikel di pasar dunia. Harga harga nikel saat ini mencapai Rp200 ribu per kilogram.

Manajer Produksi Antam Pomalaa Anas Supriatna di Kendari, Sultra, mengatakan, pihaknya telah menyiapkan sekitar 2.000 ton biji nikel yang akan dikirim ke Eropa. Pengiriman nikel tahun ini meruapakan pengiriman kedua. Sebelumnya, pada tahun lalu, pengiriman biji nikel ke Eropa menurun karena harganya anjlok.

Meskipun terjadi penurunan ekspor nikel, manajemen Antam Pomalaa menjamin tidak terjadi pengurangan karyawan, seperti yang terjadi di perusahaan-perusahaan tambang nikel lainnya. Dalam sebulan, Antam Pomalaa rata-rata dapat memproduksi sekitar 500 ton biji nikel yang selanjutnya di-ekspor ke negara-negara Eropa.(DSY)